Caleg Berpotensi Stres dan Gangguan Jiwa saat Kalah Pemilu


Orang mengalami stres memang tidak dapat dihindari dalam profesi apapun, termasuk bagi para calon legislatif (caleg). Namun bagi para caleg menghadapi risiko stres yang lebih tinggi. Jika stres sangat tinggi dan daya tahannya rendah, bukan tidak mungkin mereka mengalami gangguan kejiwaan.

Risiko stres dan aktivitas nyaleg memiliki hubungan yang erat. Kompetisi merebut kursi legislatif memang sangat sengit. Jika mereka tidak terpilih, mereka bukan hanya menanggung beban malu tapi juga kehilangan harta yang tidak sedikit.

Biasanya, ada dua hal yang paling berpengaruh pada risiko stres yang dialami para caleg,

Pertama, hutang biaya kampanye yang harus dibayarkan jika seorang caleg tidak terpilih. Biaya kampanye tentu tidak kecil. Tidak sedikit pula caleg yang berhutang atau sampai menggandaikan harta bendanya untuk mendanai kampanyenya.

Waktu dulu caleg identik dengan orang yang mampu karena kita tahu biaya kampanye tidak kecil. Namun kini banyak juga orang yang nekad berhutang demi menjadi caleg. Masalahnya, ketika mereka tidak terpilih dan tidak bisa membayarkan hutangnya, itu bisa menjadi stresor (pemicu stres) yang sangat berpengaruh.

Kedua, hal yang paling mungkin membuat stres yaitu ketidakmampuan memenuhi janji pada orang-orang yang berpengaruh di dalam pencalonannya. Untuk mendapatkan suara di daerah pemilihannya, para caleg sudah mengumbar janji. Sehingga ketika janji tersebut tidak bisa dipenuhi mereka menjadi tertekan.  Jika tidak dikelola dengan baik akibatnya adalah stres, bahkan gangguan kejiwaan.

Risiko stres lebih tinggi pada caleg yang belum memiliki pengalaman sebelumnya. Alasannya, mereka mungkin belum mengetahui cara yang paling efektif untuk mengendalikan stres. Berbeda dengan caleg yang sudah ada pengalaman sebelumnya, kebanyakan mereka mungkin telah mengalami stres di pemilihan sebelumnya sehingga lebih siap menghadapi pemilihan kali ini.
Tag : Ragam
0 Komentar untuk "Caleg Berpotensi Stres dan Gangguan Jiwa saat Kalah Pemilu"

Back To Top